MENUJU KESEMPURNAAN SHALAT Part III
KEUTAMAAN
SHALAT
Selain
sebagai ibadah yang diwajibkan bagi seluruh umat muslim yang telah memasuki
usia baligh dan sadar, shalat juga memiliki beberapa keutamaan. diantaranya
adalah :
1. Sebagai amal ibadah yang
pertama kali dihisab
Ibadah shalat
menjadi indikator yang dapat membuat pahala ibadah seseorang hamba menjadi baik
atau buruk ketika dilakukan perhitungan kelak di akhirat. Abdullah bin Qurti ra
mengatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Perkara
yang pertama kali dihisab dari seorang hamba pada hari kimat adalah shalat.
Jika shalatnya baik, maka baik pulalah seluruh amal perbuatannya”. (HR.
Thabrani)
Karena
keutamaannya tersebut, maka lakukanlah shalat dengan sebaik-baiknya sesuai
dengan apa yang diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW, karena beliau bersabda, “Shalatlah sebagaimana engkau melihat aku
shalat”.
2. Shalat sebagai tiang agama
Salah satu pilar yang akan memperkokoh
pondasi Islam adalah shalat. Hal ini telah Rasulullah SAW ungkapkan dalam
sabdanya, “Pokok dari segala urusan
adalah Islam, tiangnya adalah Shalat dan puncaknya dalah jihad di jalan Allah,”
(HR Muslim)
3. Pembeda dengan orang kafir
Sebagian besar ulama ada yang membatasi
tingkat keimanan seorang muslim berdasarkan ke-istiqamahannya dalam menegakkan
shalatnya. Seorang muslim yang telah meninggalkan shalat, maka ia menjadi
kafir. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW, “yang
membedakan antara seorang muslim dengan orang kafir adalah meninggalkan shalat”
(HR. Bukhari-Muslim)
4. Shalat sebagai Kafarat
Abu Hurairah ra mengatakan bahwa ia
mendengar Rasulullah SAW bersabda, “bagaimana
pendapatmu seandainya di depan pintu salah seorang di antara kamu ada sungai
yang ia mandi lima kali setiap hari di dalamnya, apakah kotorannya masih
tertinggal”. Mereka menjawab “Kotorannya
sedikitpun tidak bersisa”. Beliau bersabda, “Itulah perumpamaan shalat yang ima waktu. Allah menghapus kesalahan
(Dosa) dengannya”.
Rasulullah SAW bersabda, “Tidaklah seorang hamba melakukan sujud
kepada Allah kecuali Allah SWT akan meninggikan derajatnya dan menghapus
dosa-dosanya”. (HR, Ibnu Khuzaimah)
5. Shalat dapat mencegah perbuatan keji dan munkar
“Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu
Al-kitab (Al-Qur’an) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah
dari (perbuatan-perbuatan) keji dan munkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah
(shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadah-ibadah yang lain). Dan
allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Ankabut [29]: 45)
Shalat itu mengandung dua hikmah, yaitu
dapat menjadi pencegah diri dari perbuatan keji dan perbuatan munkar. Maksudnya
dapat menjadi pengekang diri dari kebiasaan melakukan kedua perbuatan tersebut
dan mendorong pelakunya dapat menghindarinya.
Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa yang shalatnya tidak dapat
mencegah dirinya dari melakukan perbuatan keji dan munkar, maka shalatnya itu
tidak lain makin menambah jauh dirinya dari Allah”.
Dari Abdullah yang mengatakan bahwa
Rasulullah pernah bersabda, “Tiada shalat
bagi orang yang tiada menaati shalatnya, dan taat kepada shalat artinya shalat
mencegahnya dari melakukan perbuatan keji dan munkar”
Dari Abdurrahman bin Yazid yang mengatakan
bahwa pernah dikatakan kepada Abdullah, “Sesungguhnya si Fulan mengerjakan
shalatnya dalam waktu yang cukup lama”. Maka Abdullah menjawab, “ Sesungguhnya
shalat itu tidak manfaat kecuali kepada orang yang menaatinya”.
Dari sini dapat diambil kesimpulan bahwa
shalat yang baik adalah shalat yang menghindarkan dari perbuatan keji dan
munkar, namun tidak jarang bahwa orang yang mengrjakan shalat, mengerjakan pula
perbuatan keji dan munkar. Pada kasus ini shalatnya akan menjadi sia-sia,
bahkan akan menjauhkan disinya dari Allah SWT. Yang harus kita ingat jika ingin
melakukan perbuatan keji dan munkar adalah tertolaknya shalat yang selama ini
kita lakukan, sehingga shalatlah menjadi penolong kita untuk tidak melakukan
perbuatan keji dan munkar.
6.
Shalat
sebagai salah satu pondasi islam
Sebagaimana yang diriwayatkan dari Ibnu
Umar, dia berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Islam dibangun diatas lima dasar, bersaksi Bahwa tiada Tuhan selain
Allah dan Nabi Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan shalat, membayar zakat,
haji dan berpuasa di bulan ramadhan”. (HR. Bukhari-Muslim)
7.
Shalat
sebagai amal perbuatan yang paling disukai Allah
Abdullah bin Mas’ud berkata, saya pernah
bertanya kepada Rasulullah SAW, “Amal
apakah yang paling utama?” beliau menjawab, “Shalat tepat pada waktunya”. Saya bertanya lagi, “Kemudian amal apa?” beliau menjawab, “Berperang di jalan Allah”. Maka tidaklah
saya melanjutkan lagi pertanyaan kecuali untuk mnjaga hal tersebut.
8.
Shalat
adalah wasiat terakhir Rasullulah SAW
Sebelum Rasulullah SAW wafat beliau
berwasiat kepada umatnya. Dengan hembusan napasnya yang terakhir beliau
bersabda, “Shalat... shalat, dengan
segenap keyakinanmu. Shalat merupakan senjata terakhir dari segala yang dapat
menghancurkan agama. Jika shalat telah ditinggalkan, maka hilanglah agama
dengan sendirinya”.
Astagfirullah’haladzim.. ampuni atas
kelalaian kami ya Allah, jika memang agama itu telah hilang dari kami karena
kelalaian kami, tolong kembalikan dan jangan ambil lagi, bantu kami untuk
menjadi hambamu yang baik yang mendapat ridho dunia akhirat mu. Amin YRA.
9.
Shalat
sebagai amal ibadah yang paling akhir hilang dari agama
Rasulullah SAW bersabda, “Sungguh, ikatan agama islam akan terurai
satu persatu. Setiap ikatan itu terurai, maka orang-orang akan bergantung pada
ikatan yang berikutnya. Adapun ikatan yang paling pertama adalah penegakan
hukum islam dan yang terakhir adalah shalat”. (HR. Ahmad, Ibnu Hibban dan
Al-Hakim)
Sungguh setiap sabda Rasulullah SAW
selalu benar dan pasti akan terjadi, di Indonesia ini contohnya telah terurai
ikatan islam yang pertama, yaitu terurainya penegakan hukum islam.
10. Ganjaran pahala shalat adalah surga
Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa yang melaksanakan shalat
sebelum matahari terbit dan sebelum matahari tenggelam, maka Allah SWT
mengharamkan jasadnya dari api neraka”. (HR. Ibnu Khuzaimah)
Ubadah bin Shamit mendengar Rasulullah SAW bersabda,
“Lima waktu shalat yang telah diwajibkan
kepada para hambanya. Dan barang siapa yang mengerjakan tanpa meremehkan hak
shalat ini sedikit pun, maka baginya disisi Allah suatu perjanjian untuk
dimasukkan kedalam surga. Dan barang siapa yang tidak mengerjakannya, maka dia
tidak memiliki perjanjian dengan Allah sedikitpun. Jika Allah berkehendak, maka
Dia akan menyiksanya, dan jika berkehendak, maka Dia akan memasukkannya ke surga”.
(HR. Ibnu Majah)
Komentar
Posting Komentar